Selasa, 29 Januari 2013

Buddha di bali


 
Salam Shanti untuk seluruh mahluk boddhi
Om awignamastu nama siddham
Om Siwa Buddhaya
Om namo panca tathagata ya
Om Namo arya avalokitesvara mahasattva maha karunaya
Om Ang Gni jaya ca Ang Gni wijaya jagat ca Um Manik Jatis ca Sumerus ca Ghanas ca De Kuturan Bharadah Ya namo svaha.
Sembah hatur ingulun ri pada nira bathara Hyang lamakane natan kakening sosot upadrawa kuasan sira paduka bathara.

Puja dan hormat kami terhadap SiwaBuddha Tuhan kami, kelima Buddha penguasa dan kepada yang mulia maha avalokitesvara mahluk yang maha pengasih.
Sembah kami kepada guru kerohanian kami dari garis siwabuddha dharma, Yang Maha Suci Gni Jaya di lempuyang agung, Yang Mulia Sapta Rsi Gni wijaya di lempuyang madya, Yang Maha Suci semeru di gunung mahameru, Yang Maha Suci Ghana di gelgel, Yang Maha suci kuturan di silayukti dan Yang Mulia Maha Suci Bharadah dijawa.
Semoga tidak terkena hukuman leluhur dan kutukan atas ijin dari Yang Maha Suci Guru kerohanian hamba.


Sinkretisme Siva-Buddha di Indonesia adalah suatu gejala keagamaan yang sangat komplek. Istilah-istilah: siva-buddha tunggal dan bhinneka tunggal ika, secara khusus, memang bisa memberi indikasi yang kuat tentang sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme di Indonesia. Tetapi dalam arti yang lebih luas sumber-sumber sastra Jawa Kuna yang memuat istilah-istilah tersebut secara keseluruhan tidak berbicara tentang kemanunggalan di antara kedua sistem keagamaan tersebut. Para sarjana, peneliti dan pemerhati, telah mengkaji masalah ini dari berbagai sudut pandang. Tetapi masalah Siva-Buddha tidak sesederhana seperti yang diperkirakan sebelumnya. Kebanyakan para sarjana menganggap bahwa masalah Siva-Buddha sudah selesai dengan mengutip sumber-sumber yang terbatas dalam kesusastraan Jawa Kuna. Masalah Siva-Buddha bukan terjadi karena diambil begitu saja melalui sumber-sumber arkeologi maupun sumber-sumber sastra. Keberadaannya dalam panggung sejarah karena kontribusi yang diberikan oleh para sarjana, baik para orientalis barat, sarjana India maupun sarjana Indonesia. Itulah sebabnya masalah Siva-Buddha ini menjadi semakin komplek karena diwarnai oleh silang pendapat para sarjana.

Kompleksitas permasalahan tersebut sudah tampak sejak di India, yaitu dengan adanya kenyataan “saling menukar” dewa-dewa di antara agama Hindu, Buddha dan Jaina. Dewa-dewa Hindu seperti Parvati dan Indra ditemukan di antara dewa-dewa Jaina, demikian juga dewa ganapati , Saraswati, Mahakala, Nilakantha, dan sebagainya, terkenal di antara dewa-dewa Buddha. Sementara Hindu meminjam dewa-dewa Buddha seperti Mahacina Tara, Janguli dan Vajrayogini di bawah nama Tara, Manasa dan Chinna-masta. Kenyataan ini menyulitkan para peneliti untuk memberi batasan yang tegas mengenai sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme. Di Indonesia, kesusastraan Jawa Kuno, tidak hanya berbicara tentang penyamaan-penyamaan yang terbatas antara Siva dan Buddha, melainkan juga diantara kelompok-kelompok dewa dalam agama Hindu dan Buddha, di samping penyamaan dewa-dewa dalam intern agama Hindu dan intern agama Buddha secara terpisah. Buddha kadang-kadang disamakan dengan Visnu. Di tempat lain Buddha disamakan dengan Brahma, atau Visnu disejajarkan kedudukannya dengan Siva (Harihara).

Tulisan-tulisan tentang Siva-Buddha, baik berupa artikel maupun hasil-hasil penelitian, sudah cukup banyak dipublikasikan. Namun, suatu gejala yang aneh bahwa di Bali sendiri, umat Hindu yang memuja tuhan “Siva-Buddha” sebagai Sanghyang Tunggal, kebanyakan belum memahami realitas ini. Padahal teks-teks yang menguraikan tentang sinkretisme Siva-Buddha di Bali terus bermunculan sampai pada zaman modern ini. Lebih dari itu, hasil penelitian menunjukkan, gejala sinkretisme Siva-Buddha di Bali merupakan yang terbesar dibanding masa-masa sebelumnya, baik di Jawa Timur (pada zaman Majapahit), maupun di India (pada Dinasti Pala). Kenyataan ini menuntut adanya penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif mengenai eksistensi Siva-Buddha dalam realitas kehidupan umat Hindu di Bali. Penelitian ini akan memfokuskan kajian pada dinamika atau evolusi Siva-Buddha dalam ajaran Tantra yang menjadi medium penyatuan Siva-Buddha di Bali. Dengan fokus kajian tersebut, diharapkan mampu memberi gambaran tentang eksistensi Siva-Buddha dalam realitas masyarakat umat Hindu di Bali.

Dalam keseharian secara ritual umat hindu lebih banyak memakai ritual siwa dan memaknai kehidupan dengan ajaran Buddha. Umat bali pada umumnya sangat percaya akan hukum karmaphala dan renkarnasi dimana hal ini menjadi titik temu kedua paham tersebut. Dalam bentuk ritual umat hindu tidak membedakan antara Siwa dan Buddha, dalam upacara besar kedua pendeta tersebut mendapat kedudukan yang tinggi dimana Brahmana Siwa dan Buddha diberikan wewenang untuk menyelesaikan upacara.

Brahmana Siwa saat ini terdiri dari keturunan Dang Hyang Nirarta yang disebut Ida Pedanda Siwa. dewasa ini dengan tergerusnya sistem kasta muncul brahmana dari latar belakang umat awam (bukan keturunan brahmana) dimana secara mental dan fisik siap dan secara ilmu agama berhak mendapat diksa yang disebut Ida Sri Mpu. Dalam prosesinya lebih cendrung seperti aliran tantra yaitu mengunakan mudra, visualisasi dan pemujaan kepada arah mata angin sesuai dengan dewanya masing-masing. dalam sarananya Brahmana siwa memakai satu genta dikiri disebut Bajra Genta.

Brahmana Buddha yang ada dibali secara mantra dan kitab berbeda dengan pendeta siwa, kitab yang digunakan adalah Sang Hyang Kamahayanikan dan puja astawa memuja dharani Buddha sebagai penguasa masing-masing arah. Sampai saat ini yang memegang teguh garis perguruan Brahmana Buddha hanya mereka keturunan Yang Maha Suci Dang Hyang Astapaka di Budakeling karangasem. Para Brahmana dalam ritualnya tidak memusung rambut seperti pendeta Siwa tetapi bebas. Pendeta Siwa memiliki banyak batasan dalam hal makanan, tapi tidak demikian dengan pendeta Buddha mereka bebas dalam hal itu. tetapi dalam hal ritual diksa pendeta Buddha tidak sembarangan dalam melakukan diksa. tidak semua siswa nabe akhirnya didiksa, hanya mereka yang benar-benar siddhi dan mampu menggunakan Bajra nengen sejenis senjata Vajra ditangan kanan untuk pelindung ketika upacara yang akhirnya memperoleh diksa. dalam hal upacara ritual Brahmana buddha memakai dua Bajra yaitu: Bajra Genta dan Bajra Nengen ( Bajra Genta dikiri untuk menghubungkan dengan para Dewa dan Buddha, Bajra Nengen dikanan untuk melindungi sang pendeta dari serangan Butha dan asura). Dalam Upacara besar di bali tidak akan lengkap tanpa kehadiran Brahmana Buddha. dan di Pura terbesar dibesakih wajib bagi tiga pendeta untuk menyelesaikan upacara pendeta SIwa, Buddha dan Waisnawa tanpa ketiga pendeta tersebut ketiga alam bhur, bwah dan Swah tidak akan disucikan secara keseluruhan.

Ketaatan dan bhakti dalam ajaran Siwa Siddhanta dan filosofi pelepasan samsara yang agung dari Buddha Tantrayana telah mebuat Bali dijuluki Sorga Dunia, Pulai dewata, Pulau seribu pura... banyak wisatawan asing dan manca negara akhirnya menemukan kedamian di bali. karena dibali agama bukan diperdebatkan tetapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. konsep buddha untuk mengasihi setiap mahluk hidup bagi orang bali sangat ditaati, itulah bukan hanya dipura saja diberikan persembahan, tetapi kepada butha diperempatan, asura-asura dan mahluk halus lainnya ditempat-tempat keramat dibuatkan tempat agar mereka tenang dan tidak mengganggu manusia. bagi orang bali berbagi dan memberi adalah anugrah... karena hal itulah yang menimbulkan akhir dari pencarian spiritual orang bali yaitu Om Shanti Shanti Shanti Om yang berarti damai dihati damai semua mahluk disekitar kita dan damai seluruh mahluk dialam semesta ini...

Sarvam Sattvam Sukkham Bavanthu
Om Shanti Shanti Shanti Om
@http://balikasogatan.blogspot.com. Akses 30 Januari 2013.
“OM ,AH, HUM ,GURU PHEI,A,HE,SA,SHA,MA,HA,LIAN,SHEN,SIDDHI, HUM”
Manfaat Menjapa Mantra Sadgativajra
Dharmadesana Guru leluhur Nuona
Tanya : Apa pahala penjapaan Sadgativajra Mantra?
Jawaban : Sadgativajra Mantra dapat disebut juga sebagai “Mantra yang dibawa dapat menjadi Buddha” maksudnya, bila di bawa, maka dapat mencapai ke-Buddha-an. Mantra ini menyelamatkan makhluk luas dan mengandung pahala yang tak terhingga. Asalkan mendengar suara mantra ini, mata melihat aksara mantra ini, atau tubuh menyentuh mantra ini (suku kata sansekerta atau aksara Tibet), dapat melenyapkan karma buruk tiga kehidupan, kelak dapat mencapai ke-Buddha-an. Mantra ini mengandung pahala yang besar dapat menyeberangkan semua makhluk, walaupun makhluk itu telah terjatuh di alam rendah, dapat terlahir di Tanah Suci. Bila saat masih hidup banyak menjapakan mantra ini, kelak setelah dikremasi akan menghasilkan sarira.
Asal usul mantra ini adalah Buddha Adaerma mewariskannya kepada Vairocana Buddha. Dulu di masa Vairocana Buddha, ada seorang sadhaka yang memiliki hati welas asih, pada suatu ketika di daerahnya dilanda bencana kekeringan, air danau menjadi dangkal, banyak ikan-ikan terdampar di air Lumpur tepi danau. Timbul rasa iba dari hati sadhaka tersebut, ia lantas berusaha memindahkan ikan-ikan ke tengah danau dengan menggunakan keranjang. Namun karena ia hanya seorang diri, ikan yang berhasil diselamatkan ke tengah danau hanyalah sebagian kecil saja. Sebagian ikan-ikan telah mati terkapar di pinggir danau. Dengan hati pilu, ia berkata “Hanya sedikit makhluk yang berhasil diselamatkan, sedangkan yang tidak dapat diselamatkan sungguh banyak.” Oleh karena tergerak akan maitri karuna dari sadhaka itu, Buddha Vairocana menampakkan diri dan berkata, “Dengan mengandalkan kekuatanmu seorang untuk menyelamatkan makhluk, tentu saja yang berhasil diselamatkan terbatas jumlahnya. Hendaknya engkau menggunakan Buddha Dharma untuk menyelamatkan makhluk, di kemudian hari nanti makhluk itu sendiri juga akan menyelamatkan makhluk lain. Dengan demikian, barulah dapat menyelamatkan makhluk luas.” Oleh karena itu, Buddha Vairocana mewariskan Sadgati Vajra Mantra kepadanya. Kemudian, ia menjapakan mantra ini di tepi danau, sehingga ikan-ikan yang masih hidup melenyapkan karma buruk yang tak terhingga banyaknya, sedangkan yang telah mati semua dapat terlahir di Negeri Buddha dan mencapai ke-Buddha-an. Ini merupakan contoh pahala yang tak terperikan dari Sadgativajra mantra.

Dharmadesana Guru Leluhur Huazhang (華藏祖師)
1. Sadgativajra Mantra khusus menyelamatkan makhluk sadgati, supaya mereka mencapai ke-Buddha-an. Begitu mantra didengar oleh telinga, dapat melenyapkan timbunan karma buruk. Bila seseorang tekun menjapakannya, senantiasa menyadari mengenai tiada lahir. Terlebih dalam menyeberangkan arwah, mantra ini memiliki pahala yang sangat besar, bila dapat terlebih dahulu membangun dasar dengan menjapa mantra ini sebanyak 100.000 kali, kelak saat hendak menyeberangkan arwah, menjapakannya 7 kali, para makhluk sadgati yang hendak diseberangkan akan terlahir di Sukhavati. Dan lagi, bila dapat menjapakan mantra ini banyak kali untuk mengadhistana pasir, kemudian ditebarkan diatas kuburan atau jasad, meskipun almarhum telah terjerumus ke dalam alam rendah tetap akan terkikis karma buruknya dan terlahir di Sukhavatiloka mendengarkan Buddha Dharma.
2. Tiap suku kata mantra ini mengandung kekuatan utnuk menghancurkan atau menutup sadgati membimbing menjuju Tanah Suci, makna tiap suku kata :

A (Alam dewa), He (Asura), Sa(Manusia),
Sha (Hewan), Ma (Setan kelaparan), Ha(Neraka).

Mantra Hati Padmakumara mengandung Sad Gati Vajra Mantra, dari sini dapat kita ketahui maitri karuna dan kekuatan pranidhana Maha Mula Acarya.
Yang Arya Padmasambhava mengatakan, “Mantra Hati Mula Acarya merupakan intisari Tri Ratna (Buddha, Dharma dan Sangha) dan Tri Mula (Guru, Yidam dan Dharmapala), dapat memperoleh pencapaian lokiya maupun lokutarayang tak terperikan. Oleh karena itu pahala penjapaan Mantra Hati Mula Acarya sungguh tak terperikan!”
Mungkin Anda pernah mendengar orang yang mengatakan bahwa menjapa Mantra Hati Mula Acarya berarti ajaran sesat, juga Mantra Hati Mula Acarya tidak ada dalam Sutra Buddha.
Mantra Hati Mula Acarya merupakan bagian dari ajaran Vajrayana, sehingga kita sebagai sadhaka Vajrayana hendaknya berhati hati terhadap gossip dan hasutan terhadap Mantra Hati Mula Acarya yang dilontarkan oleh pihak yang tidak memahami Vajrayana. Sebab memfitnah Mula Acarya merupakan karma buruk berat dan melanggar ikrar samaya dalam Vajrayana, karma buruknya cepat atau lambat pasti berbuah . Memfitnah Mula Acarya sama saja dengan memfitnah Sepuluh Penjuru Buddha, sebab Mula Acarya merupakan wakil dari Para Buddha, yang mewariskan ajaran Para Buddha (melalui garis silsilah yang tak terputus)kepada kita.
@ http://prajayuga.wordpress.com. Akses 30 Januari 2013.